Terkadang pada halaman terakhir sebuah buku atau pada detik-detik terakhir sebuah film tertulis kata tamat, seolah-olah pembaca dan penonton tidak mengerti apa-apa sendiri kalau tidak diberi tahu. Meski mengandung unsur penghinaan, kata ini kelihatan sederhana dan mudah dimengerti. Buku atau film yang sedang kita nikmati ternyata sudah selesai atau habis, dan ucapan terimakasih barangkali kita layangkan kepada penulis atau sutradara.
Menurut kebijakan yang terhimpun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tamat ini adalah verba atau kata kerja dengan arti 'berakhir', 'habis', 'selesai (dibaca, diceritakan, dipertunjukkan, dsb)', atau 'khatam'. Penemuan ini agak mengejutkan saya karena dari dulu saya kira tamat termasuk kelas adjektiva atau kata sifat. Pendirian ini didukung oleh tesaurus Eko Endarmoko (edisi pertama), sedangkan Tesamoko (edisi kedua) sependirian dengan KBBI dan memberinya tanda v (yakni verba). Terlepas dari kebingungan saya yang muncul dari keadaan ini, kita dapat lihat bahwa entri tamat hanya ada tiga bentuk berimbuhan dalam KBBI, yakni menamatkan (membuat menjadi tamat), penamatan (proses, cara, pembuatan menamatkan) dan tamatan (yang sudah tamat belajar). Kata penamatan tidak terdapat di KBBI edisi sebelumnya, dan juga tidak tertemukan didalam Tesamoko (baik edisi perdana maupun edisi kedua). Ini menunjukkan bahwa kata tamat siap berkembang dan, saya kira, tidak salah kalau dikembangkan lebih lagi.
Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar